Islam itu berisi :

Islam itu berisi :

Tuesday, January 26, 2016

38. Ka`bah Pusat Semesta dan 'Rahasia Antara' Zat dan Sifat



PUSAKA MADINAH WILAYAH HAKIKI


Nur dan Muhammad diri kita juga, maka hendaklah diesakan. Bagaimana mengesakannya? Diam sediam-diamnya. Zat itu maqamnya Nur. Nur itu hilang di Zat. Zat itu tidak ada pangkal dan ujungnya. Zat itu mengetahui dirinya sendiri. Putih, Zat Allah Ta`ala itu. Di sinilah Nur sembunyi. Zat itu yang mengetahui bahwa dirinya itu putih tidak berwarna [mukhalafah]. Daripada salah, lebih baik berada di diam.

Tuhan "bersembunyi/terlindung" terang seterang-terangnya. Muhammad "sembunyi" di dalam cahayanya. Allah "sembunyi" di dalam Nur. Nur "sembunyi" di dalam zatnya. [Contoh: Di mana matahari bersembunyi? Di balik cahayanya.]

Pengajian [Pusaka Madinah] ini bukan dengan prinsip "masuk-memasuk" atau "raib-meraib". Apabila masuk-memasuk atau raib-meraib: bersekutu.

Yang Mahakuasa itu Maharuang. Nur menghilang ke Maharuang dan Muhammad hilang ke langit. Sampai ke fastawa fil ufuuki a`la [penghabisan]. Keluarlah dari batas ufuk ini, tibalah di alam Tuhan. Inilah pelajaran untuk mengambil gelar profesor ketuhanan.


Apa sebab Zat itu tidak berwarna?
Karena sudah diketahui yang dikatakan putih tidak berwarna itu, tentulah tidak berwarna. Putih tidak berwarna itu artinya bersih. Oleh sebab itulah siapa melihat dirinya yang putih di dalam Tubuh Kosong [Maharuang], selesailah pelajaran dan perjalanan ilmunya. Karena itu sudah Tubuh Yang Mahakuasa.

Kalau sudah memandang Yang Dijadikan, jangan lagi mencari Yang Menjadikan. Ibarat kamu membuka kamar di dalamnya ada orang. Walaupun pintu kamar itu ditutup lagi, tetap kamu yakin di dalamnya ada orang.

Kita melihat kebanyakan kue apa saja terbuat dari terigu. Walaupun ditutup dengan bermacam-macam model sajian, kita tetap yakin ada terigunya. Inilah permisalan untuk mengetahui tentang hakiki. Orang yang sudah tahu dan melihat hal yang dibicarakan ini tidak akan tertipu. Inilah pelajaran "otak basah", bukan untuk orang yang berotak kering.


Kontaknya zat asam dengan kita maka kita hidup. Kita tenggelam dalam lautan zat asam. Kalau sudah bersama-sama zat asam, tentulah kita bukan bersama-sama dengan zat asam lagi, bersama Zat Mutlak-lah kita. Nur itu zat asam, Allah itu Rahasia, antarlah dengan jalan Laa ilaaha illallah 300x; Muhammad Rasulullah 300x dan supaya terbuka jalan dan kita lihat: selawat al-Fatih 10x.

Pohon kelapa saja yang jauh dapat dilihat dan diketahui isinya. Mengapa Allah yang tidak ada antara, tidak dapat dilihat? Karena manusia tidak tahu antara dirinya dan pohon kelapa. Tidak diperhatikannya ini.

Perhatikanlah, manusia berwarna-warna karena [pengaruh kontak dengan] zat asam. Kalau yang tidak berzat asam, tentulah putih yang tidak dapat diumpamakan. Kita sudah bersama di dalam Zat Mutlak, tentulah dapat kita sampai di alam Allahua'lam. Inilah alam Tuhan.


Yang di dalam diri tidak perlu berkhitan karena sudah esa dengan jasad. Yang di luar, Zahiru Rabbi; yang di dalam bathinu abdi. Kita, Ruh Qudus. Yang di dalam itu diri kita juga. Adam dan MuhammadZahiru Rabbimaka kita berdiri shalat. Yang bertemu Rabbi, Ruh Qudus. Diserahkannya Diri-Nya pada kita. Zahir dinamai Allah.

RAHASIA ANTARA ZAT DAN SIFAT


Pengingatan itu Nur; perasaan kita itu Zat. Perasaan lebih tua daripada pengingatan. Bangun dengan perasaan yang bagus karena tubuhnya Allah Ta`ala. Apabilah habis per-ingatan, datanglah perasaan. Penghabisan suara dengan perasaan. Allah Ta`ala sembunyi di antara Zat dan Sifat. Inilah yang paling tinggi nilainya. Inilah ilmu para nabi dan wali.

Sembunyi di antara Zat dan Sifat inilah dinamakan rahasia di dalam rahasia. Harta benda tidak ada gunanya. Di sini [di antara Zat dan Sifat], kita bisa ambil apa yang diinginkan.

Kalau ada  orang mengaku sudah dapat rahasia antara Zat dan Sifat ini dan ketika dia ada keperluan hidup masih mencari dari pekerjaan, perdagangan, kedudukan, jabatan, dan pangkat, belum bisa dikatakan wali Allah. Tidak semudah itu perkataan "wali" itu diucapkan. Yang disebut wali itu tidak ada keperluan [yang melibatkan selain-Nya]. Kalau mau apa saja tinggal ambil di antara Zat dan Sifat. Tidak ada mengharap dari makhluk. Malulah dengan syarat ini-itu: umat mau belajar musti daftar dan bayar "mahar" atau bergabung di bawah bendera ormasnya. Kalau ada orang mengaku wali masih melakukan itu, namanya wali kentut!

Beritahu para ulama itu, kalau mau tahu wali, carilah rahasia di dalam rahasia, yaitu antara Zat dan Sifat. Dan di antara Zat dan Sifat ini juga yang paling nikmat senikmat-nikmatnya. Mati sekalipun kalau tahu rahasia antara Zat dan Sifat ini: nikmat senikmat-nikmatnya. Tidak ada rasa sembilu atau tertusuk pedang lagi.

Ada hadis mati bagai ditusuk pedang. Maksudnya supaya manusia berpikir dan berusaha untuk bisa mati tanpa sakit. Tuhan memberi tahu, kita mencari kerahasiaannya supaya terhindar dari mati semacam itu.
Ulama banyak, kiyai banyak, mintalah pada mereka rahasia yang ada di antara Zat dan Sifat itu.

Allah berkata dengan "Kun" saja: jadi segala-galanya. Carilah rahasia antara "kaf" dan "nun". Banyak orang coba-coba pakai kata "Kun, Kun" saja. Tak jadi apa-apa, hanya jadi kurap di badan. Rahasianya ada di Surah Yasin. Orang banyak membaca Surah Yasin, tetapi rahasia antara "kaf" dan "nun" tidak diketahui. Surah Yasin malah dipakai untuk mengantar orang sakaratul maut. Ini namanya penghakiman untuk orang itu.


Carilah rahasia antara Zat dan Sifat itu. Kalau benar-benar dapat, tidak bernilai segala yang ada di dunia ini. Ilmu Siti Jenar pun tidak laku. Untuk apa, rahasia ini lebih hebat daripada ilmu apa pun. Dibayar bermilyar juta pun tidak akan diperjual-belikan rahasia ini.

—Syaikh Siradj—
 .


No comments:

Post a Comment