Islam itu berisi :

Islam itu berisi :

Friday, January 29, 2016

21. Islam adalah Penyelidikan



.
Islam adalah penyelidikan karena Islam diturunkan Allah [salah satunya] dengan perantaran Jibril a.s. Isi Quran disampaikan oleh Jibril a.s. tidak pakai pena dan kertas. Jibril a.s. pun ketika menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad Saw. hanya datang—menyampaikan wahyu—pulang. Tidak ada Jibril a.s. menjelaskan makna wahyu yang disampaikannya itu pada Muhammad Rasulullah Saw. Jadi, siapa yang menyelidiki makna tersurat maupun makna tersurat setiap wahyu Ilahi itu? Tentulah insan yang menerima wahyu, yaitu Nabi Muhammad Rasulullah Saw.[1]

Waktu takbir, siapa Allah itu? Kenalilah Diri Allah itu Tubuh [bagi] alam yang tidak bisa diumpamakan dan dibanding-bandingkan. Allah itu Zat-Mutlak, Maharuang, Mahasuci dan di dalam Tubuh Allah itu kita sudah yakin: Ada Allah; Ada Tuhan.

Jadi sebelum bertakbir, tidak ada keraguan lagi. Tidak ada ber-i`tikad-i`tikad lagi sebab i`tikad inilah yang merusak ibadah. I`tikad seperti inilah yang justru banyak dipakai orang ketika beribadah. Ada yang ber-i`tikad lafal, bayangan-banyangan, cahaya-cahaya, warna-warna, rasa-rasa, dsb. Perbuatan seperti ini jahil murakab.

Dalam hukum takbir dikatakan bahwa takbiratul ihram itu satu kali saja. Tidak berulang-ulang. Dan dalam menyebut satu kali takbir ini, semua yang halal dihukumkan haram. Lain lagi dengan takbir intiqal. Jadi, teringat sesuatu yang dihalalkan syara', dalam takbir hukumnya jadi haram. Dalam takbir ihram, jangan ada hati berkata-kata,"Sengaja aku shalat fardu ini..bla..bla..bla...." Inilah yang dikatakan shalat i`tikad-i`tikad-an.

Dalam takbir, keluarkan suara. Jangan dimasuk-masukkan. Baguskan ucapan panjang 3 alif/harakat-nya. Yang dimaksud suara jangan dimasuk-masukkan adalah seperti ucapan "Hu" yang dimasukkan ke dalam atau sambil manarik napas [Contoh: "Allaaahuuu Akbar]. "Hu" itu hukumnya satu harakat. Kalau sampai "Hu" dipanjangkan, ini sudah menjadi i'tikad yang merusak ibadah. "Hu" yang dipanjangkan ini oleh hukum tajwid saja sudah disalahkan. Shalat dengan takbir "Hu" yang dipanjangkan, ini namanya shalat makan bakso kepedasan: ditarik-dihembus. Huaahh!! Begitu juga dalam syahadat, keluarkan semua suara.
Maka sebaiknya dalam shalat dua tempat ini dijaga, yaitu dalam takbir ihram dan syahadat.

Yang tidak ber-zat asam lagi itu putih tidak berwarna: putih yang laysa kamitslihi sya`iun. Kita ini sudah ada di dalam Dia. Itu makanya musti esa dengan-Nya. Yang bathinu Rabbi-lah yang tahu. Bathinu Rabbi itulah Ruh Qudus. Dia berkuasa atas jasad. Dia [Ruh Qudus] yang menggerakkan dirinya pada jasad.


"al-Abiduuna ma'buduuna wahidun."
Yang Menjadikan dan Yang Dijadikan, satu.

Jelaslah Yang Menjadikan ini dikenal oleh Yang Dijadikan. Timbullah perkataan tauhid: "Laa bashirun illallah."

Yang di luar Islam itu mencari kebenaran dengan syariat. Kita yang Islam, mencari kebenaran menggunakan keruhanian. Di sinilah kita mengetahui bahwa jasad itu berkehendak dengan nafsu, sedangkan ruhani berkehendak dengan ketuhanan. Apa saja yang dikerjakan dengan jasmani, tidak akan berhasil karena dilakukan dengan nafsu.

Jika kebenaran Quran kita gali dengan keruhanian, akan mendatangkan hasil. Kalau dikerjakan dengan jasad, hanya akan menambah pusing dan kebingunan [ganjalan samar di hati; diakui ataupun tidak] dalam ber-Islam dan akhirnya tidak berhasil.

Itu juga sebabnya pendapat-pendapat ilmuwan kafir tidak ada yang membawa pada keimanan: menemukan nuklir untuk membunuh, bukan untuk beriman.
Ingatlah selalu, jasad berkehendak dengan nafsu; ruhani berkehendak dengan ketuhanan
[keimanan akan Tuhan]

Syaikh Siradj



[1]:
[Jadi, iqra ini sudahlah perintah Allah, sunnah Rasulullah pula. Jadi, kata siapa hanya ulama yang boleh ber-iqra?! #think! (Mux)] [kembali]





.

No comments:

Post a Comment