Islam itu berisi :

Islam itu berisi :

Friday, January 29, 2016

14. Syarat Isra Mi'raj di Sungai Itik




[Kutipan singkat Ceramah Memperingati Isra Mi'raj oleh K.H. Undang Sirad di Masjid Agung Sungai Itik, Pontianak]

...

Ini ada surat dari panitia minta waktu setengah jam lagi ceramahnya supaya pas 2 jam. Satu jam setengah saja ini sudah berliur-liur :P maka saya sambung lagi sedikit saja ya.... :D

Kalau mau ber-Isra Mi’raj ada syarat, yaitu bersihkan dulu batiniyyah-mu, Jibril saja sampai hanya sampai Sidratul Muntaha. Rahasia untuk sampai kepada Allah itu ada pada hati, kenyataannya itulah Isra Mi’raj. Nabi Muhammad Saw., Malaikat Jibril yang membersihkannya, kalau kita siapa yang membersihkannya? Ikutlah Rasulullah. Panggillah Rasulullah itu untuk membersihkan hati dengan “Yaa Sayyidi Yaa Rasulullah”.

Karena hatinya bersih, Rasulullah dengan Allah bergandengan terus dari dunia sampai ke Sidratul Muntaha, bahkan sampai lepas dari Sidratul Muntaha. Jadi kunci untuk sampai ke Allah itu, batinyyah kita harus bersih. Jadi Isra Mi'raj ini mengandung pelajaran yang besar bagi umat manusia yang mau berpikir. Sampai Allah sendiri berfirman, “Allah melimpahkan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.“ [Q.S. Yunus: 100].

Jadi dalam Isra M'iraj ini gunakanlah akal kita tentang kejadian-kejadian yang berlaku sebelum Isra dan sesudah Isra. Karena manusia banyak tidak mempergunakan akalnya, maka Allah melimpahkan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. Ini sudah dicontohkan, sebelum Nabi di mirajkan, dibersihkan dulu hatinya.


Perkataan subhanallazi asra’bi abdihi ini menunjukan benar-benar Tuhan yang memperjalankan Muhammad itu di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Baraq’na haulahu linuriyahu min ayatina innaka dalam perjalanan itu Allah menunjukan tanda-tanda kebesaran-Nya. Semua benda langit itu ciptaan-Nya, Kebesaran-Nya yang mana? Kebesaran Tuhan itu meliputi sekalian alam, dijelaskan dalam surah Fussilat:54, “`ala innahu bikullin sya’in muhiith.”  Kebesaran Tuhan itu meliputi sekalian alam sampai ke Sidratul Muntaha pun keadaannya masih di dalam kebesaran Allah. Tentulah manusia perlu mengetahui hakikat kebesaran itu. Kalau manusia menemui hakikatnya, pasti manusia menemui marifatnya, yakni mengenal yang sebenar-benarnya tentang bikulli sya’in muhiith itu.

Sesungguhnya Allah itu meliputi sekalian alam. Dalam peristiwa Isra Mi'raj ini dibuktikan nyata oleh Tuhan kepada hamba-Nya, Muhammad Saw. Secara makrifat, itulah Tubuh Tuhan yang meliputi sekalian alam. Tuhan sendiri langsung memandangkan kepada Muhammad. Bukan Muhammad memandang, melainkan Tuhan memandangkan, bahwa Tubuh-Nya itu bersifat kosong. Kosong itu Sifat-Nya; yang diam itu Tubuh-Nya, Allah itu Nama-Nya.


Jelaslah peristiwa Isra Mi'raj itu penuh dengan kerahasia-rahasian Tuhan bagi orang yang mau berpikir, yakni yang mempergunakan akalnya. Perlulah kita tahu bahwa kita mendengar saja perkataan "Allah", sambil tidak kenal, sedangkan dalam peristiwa Isra Mi'raj ini sudah Tuhan memandangkan kepada Muhammad, kepada Jibril. Ambilah hikmah pelajaran ini dari peristiwa Isra Mi'raj

Contoh:
kita mendengar suara di handphone, tetapi tidak kita lihat siapa yang bersuara.
kadang-kadang di dalam hati kita ada yang berkata/bersuara, rupa-nya dilihat tidak? Bisa saja jin, iblis, setan.

Rasulullah dan Abu Bakar r.a. di kepung di Gua Tsur. Ada suara di dalam diri Rasulullah, suara itu didengarnya dan diberitahukan kepada Abu Bakar, “Wa laa takhafu wa laa tahzan. Innallaha ma’ Ana." Ada Rasulullah—ada Allah. Karena Allah Yang Berkata di dalam hati Rasulullah, Rasulullah kemudian menyampaikan Kalam Allah itu kepada Abu Bakar sehingga Abu Bakar pun tenang jiwanya dan tidak takut lagi.



Tahulah kita: di luar manusia, di dalam ada Allah. Jangan salah paham tentang wafi anfusikum afala tufsiun “aku ada didalam diri kamu.” Kalau Allah yang ada pada diri kita, bisa meledak diri kita. Firman Allah dalam hadis qudsi, “Aku tak bisa lolos [bertempat] pada segala sesuatu, hanya Aku bisa lolos [bertempat] di dalam hati hamba-Ku yang mukmin. Kejarlah tingkat mukmin ini jangan sampai bongkok muslim terus, musti sampai mukmin. Begitu juga setiap manusia musti mengetahui apa wujud ma’nawi itu. Dan apa wujud kauniyyah itu. Wujud ma’nawi itu ada di dalam sifat ma’ani dapat diketahui sifat zat itu,  seperti melihat, mendengar, hidup, ilmu, dan berkata-kata. Kalau sifat kauniyyah yang mana? Sifat kauniyyah itu seperti senang, susah, mana ada wujudnya. Macam mana wujud senang itu? Macam mana wujud susah itu? Tidak kelihatan wujudnya, tetapi ada hubungan dengan batiniyyah kita.

Umpama kita lihat seorang bapak duduk bertopang dagu. Ada hubungannya dengan batiniyyah kita. Batiniyyah kita merasakan bahwa bapak yang bertompang dagu itu sedang susah. Wujud susah itulah wujud kauniyyah yang tidak ada wujudnya, tetapi ada hubungannya dengan batiniyyah kita. Maka kalau cari cewek itu jangan yang jelek-jelek karena kalau nanti liat yang cantik-cantik, susah. xD



Mudahan-mudahan cermah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Aaamin.Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.



Syaikh Siradj


*)Mux gak sempat ikut ke Sungai Itik makanya pajang foto yang ada aja. Foto di atas itu beliau lagi in action di podium waktu halal bil halal yayasan majlis taklim kami di Pontianak tahun 2007. Ada videonya dan sedang coba mengusahakan video tersebut bisa didownload gratis untuk semua Sobat Sarang. Tunggu aja tanggal mainnya ya. :D


.

No comments:

Post a Comment